Welcome to my Blog

Mohon maaf bila bnyak ksalahan soalnya msih dlm tahap pembelajaran,,,,heee ;-)

Rabu, 03 April 2013

Jomblo VS Single

Sedikit pencarahan buat temen-temen yang udah jadi jomblo basi. Yuk mari disimak !!!! :D

Pilihan vs Nasib
Perbedaan utama antara Single dan Jomblo adalah di pemikirannya. Para jomblo biasanya suka ngeluh "aduh kenapa sih belum punya pacar nih sampe sekarang…" sambil duduk di pojokan gelap dan bikin lingkaran kecil-lingkaran besar di lantai pake jarinya. Terus mereka lanjut mikirin kekurangan-kekurangan dirinya dan menyalahkan diri sendiri atas kejombloannya, kayak "Coba muka gue gantengan dikit, pasti gak begini" atau "Susah punya pacar kalo gaji gue pas-pasan begini !" Terus galau deh ujung-ujungnya. Nyalahin nasib.

Sementara si Single, dia happy-happy aja sama kehidupannya. Dia mensyukuri apa yang dimilikinya sekarang, dan gak pusing mikirin kenapa gak punya pacar. Mungkin muka sama duit juga keadaannya pas-pasan kayak si jomblo, tapi dia tetep happy. Kalo tiba saatnya dia ngerasa pengen punya pacar, dia bakal usaha dan dapetin pasangan yang dia mau. Si Single ini punya kendali dalam kehidupannya. Semuanya merupakan pilihan bagi dia. Asik.

Malam Minggu
Perbedaan antara Single dan Jomblo juga bisa dilihat di waktu-waktu tertentu, terutama malem minggu yang terkenal sebagai malam pacaran global. Coba kita telaah perbedaan kelakuan si Jomblo dan si Single.

Si Jomblo: Panik karena malem minggu dateng lagi dan masih belom ada yang nemenin. Dilanjutin dengan heboh ngehubungin semua orang di phonebook nyari temen jalan, yang kebanyakan bakal ditolak soalnya temennya mau pacaran. Akhirnya basi sendiri dirumah. Galau. Terus main burung.

Si Single: Deket-deket malem minggu, dia bakal nanyain temen-temennya apakah ada acara ato enggak. Kalo pada kosong, dia bakal bikin rencana buat jalan, makan-makan atau party. Kalo pada sibuk, si Single santai aja, cari kegiatan yang bisa dia kerjain dan nikmatin. Misalnya main burung.

Ketemu Tante Rese
Salah satu event dimana kita bisa melihat perbedaan jelas antara si Single dan Jomblo adalah ketika mereka bertemu tante-tante kepo yang suka nanya "KAPAN KAWIN?"

Si Jomblo: Waktu ditanyain KAPAN KAWIN, Si Jomblo bakal mesem-mesem gak jelas campur bete, dan ngasi jawaban gak jelas yang membuat si tante makin bersemangat nanya-nanya. Dan biasanya nanti si tante juga nambahin kayak gini "Anak temennya tante seumuran kamu juga, kemaren baru lamaran. Kamu cepetan dong nyusul, nanti keburu basi lho ihik ihik ihik *ketawa ala tante-tante ditutupin kipas*"
Terus si Jomblo pun bete, galau, terus nge-tweet humoris nan depresif tentang KAPAN KAWIN. Terus gak lama kemudian dia nelpon mantannya, minta jatah.

Si Single: Sementara kalo si Single ditanya KAPAN KAWIN, dia bakal ketawa kecil, terus menjawab diplomatis seperti "Hahaha nanti lah tante, kalo udah siap. Sekarang aku mau fokus nyari duit dulu, kalo kawin gak punya duit nanti makan apa dong?", atau menjawab humoris "Belom ada calon nih! Tante kalo ada calonnya kenal-kenalin lah hehehe…" atau malah menjawab serius "Waduh tante ini gimana sih, nikah itu kan urusan serius, bukan balapan. Bukan perkara siapa yang duluan terus temennya juga musti cepetan nikah juga. Jodoh itu kan di tangan tuhan. Belom lagi materi, mental dan kedua keluarga musti siap blablabla……"
Setelah diceramahin panjang lebar, si tante kepo pun pulang, dan introspeksi diri terutama mengenai sikap kepo-nya itu. Dia pun tobat.

Ngeliat Orang Pacaran
Suatu hari, si Jomblo ama si Single lagi jalan bareng nih. Terus di depan mereka lewat sepasang muda-mudi yang lagi mesra pacaran sambil pegangan tangan dan berbagi es krim. Ini nih pikiran yang terlintas di kepala mereka ketika melihat pemandangan tersebut.

Si Jomblo: "Kapan ya gue bisa kayak gitu. Ceweknya cantik deh. Tipe gue banget. Tapi cowoknya juga oke sih. Aduh. Susah deh gue kalo cewek-cewek maunya ama cowok kayak gitu. Mana ada yang mau sama gue, yang binatang jalang dari golongan yang terbuang ini.. Huuuuffttt….."

Si Single: "Kasian juga nih cewek. Cowoknya pelit gitu cuma mau beli 1 eskrim buat dimakan berdua. Tapi kayaknya tu es krim enak juga keliatannya. Belinya dimana ya? Seinget gue di mall ini toko es krim ada di lantai 2. Eh tapi tadi abis makan steak sih, duit tinggal dikit. Terus tadi nyokap juga nitip obat nyamuk. OIYA NYOKAP NITIP OBAT NYAMUK!"

Nah gitu kira-kira perbedaan Jomblo sama Single. Ngomong-ngomong, kamu KAPAN KAWIN? (Dalam hati : Kawin dulu ah,,Nikah mah ntar belakangan :D) wkwkwkwkkkk

Kemampuan Mengendalikan Api dengan Pikiran (Pyrokinesis)

Mungkin tak terbesit dalam benak kita, apa mungkin seorang manusia biasa mampu mengendalikan api melalui fikiran yang kita punya? Jawabannya tentu saja bisa. karna didunia ini tidak ada yang tidak mungkin bagi kita semua bila Allah SWT berkehendak.... manusia itu diciptakan dengan segala kesempurnaan didalamnya, sebenarnya semua manusia itu mempunyai inti kekuatan dalam tubuh kita masing-masing atau sering disebut juga dengan CAKRA. Ada berbagai macam Cakra dalam tubuh kita, tergantung kita mengolahnya agar dapat menyatu dengan alam semesta ini, termasuk kemampuan mengendalikan api. Di tahun 1980an ada film yang berjudul "Firestarter", yang menceritakan tentang anak perempuan yang mempunyai kemampuan membakar apapun yang dilihatnya. Kemampuan ini disebut Pyrokinesis. Baru-baru ini juga ada film tentang pyrokinesis, film serial "Heroes" dimana ada salah satu karakter bernama Meredith mempunyai kemampuan pyrokinesis. Lalu, apa yang dimaksud dengan pyrokinesis itu? Pyrokinesis, berasal dari kata Yunani πυρ (PUR, yang berarti "api, petir") dan κίνησις (kínesis, yang berarti "gerak"). Sebuah kemampuan yang melebihi dari api. Yang mana mental pemiliknya mampu memanipulasi api dan panas. Hal ini dapat tercapai dengan melakukan percepatan partikel untuk meningkatkan suhu hingga mencapai tingkat panas yang ekstrem dan sanggup memancarkan bunga api sehingga sanggup mengeluarkan api.Sebagian besar orang dengan karunia ini mempunyai kemampuan untuk meningkatkan suhu pribadi mereka untuk menghangatkan tubuh, bahkan dalam kondisi paling dingin. Dalam beberapa tradisi pyrokinetic (orang yang dapat menggunakan pyrokinesis) dapat membuat api, tetapi secara "teknis" pyrokinetic hanya dapat memanipulasi api, meskipun mereka dapat membakar bahan mudah terbakar, membuat api setelahnya. Kemampuan untuk membuat api dari udara tipis, tanpa bahan mudah terbakar, disebut "pyrogenesis." Pyrokinesis berada di bawah payung telekinesis (atau, kadang-kadang, psikokinesis)dimana seorang praktisi menggunakan pikirannya untuk mempengaruhi dunia fisik di sekitar mereka. Secara tradisional seorang pyrokinetic dapat menyalakan api ketika kondisi sesuai dengan pasokan yang cukup untuk menciptakan api, yaitu bahan bakar, oksigen dan panas, kemudian memanipulasi intensitas api dan arah di mana bahan-bahan itu berada. Jadi pyrokinetic dapat mengobarkan setumpuk surat kabar dan tidak membakar tirai di dekatnya , atau menyebabkan api menyebar dengan cepat melalui daerah tertentu pada kecepatan yang tidak wajar. Walaupun tidak ada eksperimen empiris yang telah terbukti sesuai dengan yang ditampilkan oleh tradisi pyrokinesis populer , kemampuan untuk menghasilkan panas telah ditunjukkan oleh praktisi seni bela diri tertentu. Seniman bela diri ini, dengan memanipulasi energi "chi", mereka dapat memancarkan panas dari tangan mereka atau bagian lain dari tubuh mereka. Beberapa berpendapat bahwa kemampuan ini tidak "benar" melainkan hanya pyrokinesis berbentuk bio feedback dan sekedar kontrol, meningkatkan dan peningkatan kemampuan alami tubuh untuk menghasilkan panas, sementara yang lain mengatakan bahwa itu adalah kemampuan manipulasi pikiran dunia materi dan dengan demikian memenuhi syarat sebagai (telekinesis).Banyak yang memiliki kemampuan ini bekerja dengan energi negatif yang cenderung lebih hangat kemudian berubah bentuk ke energi positif.Pemilik kemampuan ini cenderung penuh energi negatif dan dengan demikian sangat panas bila disentuh, atau dalam kekurangan energi negatif sehingga menjadikannya cukup beku untuk disentuh. Fenomena yang dialami para penderita pyrokinetics, berbeda dengan yang disebut penghangusan tubuh secara spontan atau Spontaneous human combustion (SHC). SHC sering berakibat fatal, karena panas yang terjadi mampu mengubah tubuh menjadi setumpuk abu hanya dalam beberapa menit. Bisa dibayangkan seberapa kuat panasnya, bila dibandingkan dengan pembakaran jenazah di krematorium yang menggunakan panas pada suhu 1.110 C. Perlu waktu 8 jam untuk membakar jenazah di situ. Itupun, bekas yang ditinggalkan tidak seperti pada peristiwa SHC. SHC adalah fenomena yang tidak secara langsung berkaitan dengan pyrokinesis, tetapi kesimpulan logis yang didapat dan telah ditarik diantara keduanya adalah jika seseorang tiba-tiba terbakar tanpa alasan yang dapat dipahami tentu saja dapat menjadi target pyrokinetic, jika seseorang mengandaikan adanya semacam itu. Teori-teori lain di sekitar keduanya, SHC dan praktisi pyrokinesis yang berjuang untuk mengendalikan kemampuan mereka dan secara tidak sengaja mengubahnya pada diri mereka sendiri, sehingga terjadilah SHC. Willy Brough (12) dari Turlock, Kalifornia, misalnya, diduga mampu menyalakan api hanya dengan memandangnya. Akibatnya, ia harus menerima saja ketika diusir keluarganya karena dianggap kerasukan roh jahat.Untunglah, seorang petani yang tinggal dekat rumahnya mau memungut bocah itu dan kembali menyekolahkannya. Namun sayang, di sekolah baru ini ia hanya bertahan 1 hari. Karena hanya dalam sehari itu, lima ruang kelas dilalap api yang bersumber dari sorot matanya. Contoh lainnya adalah Benedetto Supino dari Formia, dekat Roma, yang selanjutnya mejadi perhatian masyarakatnya. Bermula pada tahun 1982, ketika buku komik yang dibacanya di ruang tunggu dokter gigi tiba-tiba menyala. Sejak itu, ia dan keluarganya dikejutkan oleh beberapa kebakaran. Meja-kursi dan bermacam-macam barang lainnya terbakar setiap kali Benedetto melewatinya, termasuk juga seprai tempat tidurnya, atau barang-barang yang dipegangnya, terutama buku. Demikian pula dengan barang yang dipandangnya dengan serius, seperti yang pernah terjadi pada benda plastik yang dipegang pamannya. Kemampuan itu membuat Benedetto merasa sangat malu, bahkan tertekan. Sementara para ilmuwan tidak mampu banyak membantunya. Nasib mengenaskan lain dialami Jennie Bramwell yang yatim piatu. Hanya dalam beberapa minggu setelah diadopsi, di rumah Dawson, keluarga angkatnya di Thorah Island, Ontario. Telah terjadi berpuluh kali kebakaran kecil. Api yang menjilat langit-langit, dinding, perabotan, handuk, bahkan kucing kesayangan keluarga, terjadi spontan saat Jennie ada di dekatnya. Jennie pun dikembalikan ke rumah yatim piatu. Profesor Mario Scuncio dari Pusat Kesehatan Sosial Tivoli memberikan diagnosis yang agak janggal dengan menilai kondisi kejiwaan anak laki-laki yang pendiam dan kutu buku itu sangat normal.Dr. Giovanni Ballesio, dekan jurusan pengobatan kesehatan dari Rome University, yang pernah menyelidiki kemungkinan ketidaknormalan pada orang yang memiliki kemampuan membangkitkan listrik tinggi pun tidak mampu menemukan penjelasan apa-apa di balik semua kebakaran itu. Benedetto hanya menyandarkan harapannya pada parapsikolog Demetrio Croce yang mencoba mengajarkan bagaimana mengontrol kemampuannya itu. Vincent H. Gaddis, dalam bukunya Mysterious Fires and Lights, menyatakan bahwa ada satu kekuatan pikiran yang mampu meningkatkan gejolak molekul yang berpengaruh langsung pada suatu objek sasan. Begitu gejolak meningkat, objek menjadi panas. Untuk membakar tirai, baju atau benda lain yang mudah terbakar hanya perlu beberapa percikan panas. Vincent menulis buku ini berdasarkan penelitiannya dalam bidang parapsikologi pada tahun 1967. Kemampuan seperti juga dikembangkan teratur oleh para biksu Tibet bahkan hal ini diujikan dalam proses inisiasi mereka, dengan membungkus diri dalam lembaran kain dan kertas basah, dan menghabiskan malam di pegunungan yang dingin, duduk di salju. Di pagi hari, jika mereka lulus ujian, kertas dan kain akan mengering dan beberapa salju yang menyentuh tulang kaki di sekitar biarawan akan meleleh. Kelebihan manusia-manusia tersebut yang mampu membakar benda-benda disekitarnya memang merupakan suatu kelebihan sendiri, tetapi bila tidak dapat mengontrol kekuatannya tersebut kelebihannya itu dapat menjadi suatu kutukan tersendiri.